Laporan Praktikum Genetika

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


KEGIATAN 1

I.              Judul Percobaan: Pengamatan Morfologi Drosophila
II.           Tujuan Percobaan: Mengamati perbedaan jenis kelamin drosophila.
III.        Dasar Teori:
Rangkai kelamin awalnya ditemukan T.H Morgan pada percobaannya terhadap Drosophila melanogaster, ia mendapatkan lalat bermata putih. Lalat ini merupakan mutan (mengalami perubahan gen) karena lalat normata bermata merah. Ketika lalat jantan bermata putih dikawinkan dengan lalat betina normal (bermata merah), maka semua keturunannya bermata merah. Dan jika lalat F1 ini dikawinkan, maka keturunan F1 memperlihatkan perbandingan 3 bermata merah: 1 bermata putih. Dari perbandingan ini, diperoleh petunjuk bahwa merah adalah dominan terhadap putih, selain itu, semua lalat F2 bermata merah semua, sedangkan separoh dari lalat jantan bermata merah dan sebagian lagi bermata putih. Dari sini diambil kesimpulan bahwa gen resesip hanya memperlihatkan pengaruhnya pada lalat jantan saja. Karena itu Morgan berpendapat bahwa gen yang menentukan warna mata itu terdapat pada kromosom-X (Suryo, 2008).
Jika gen dominan W menentukan warma mata merah, dan alelnya w resesip untuk mata putih maka semua lalat betina keturunannya bermata merah, sedangkan separuh dari jumlah lalat jantan bermata merah dan separohnya lagi bermata putih. Karena lalat jantan hanya memiliki 1 kromosom-X, sedangkan di kromosom-Y tidak terdapat gen tersebut maka lalat jantan bersifat hemizigotik (Suryo, 2008).
Secara morfologi Drosophila melanogaster jantan dan betina dapat dibedakan dengan parameter-parameter sebagai berikut:
Jantan
Betina
Ukuran tubuh lebih kecil
Ukuran tubuh lebih besar
Memiliki 3 ruas abdomen
Memiliki 6 ruas abdomen
Memiliki sisir kelamin/sex comb
Tidak memiliki sisir kelamin
Ujung abdomen tumpul
Ujung abdomen runcing

IV.        Alat, Bahan dan Cara Kerja:
v  Alat dan Bahan:
1.    Mikroskop/loupe
2.    Obyek glass, pinset
3.    Petridish, eter dan kapas
4.    Populasi lalat drosophila
v  Cara Kerja:
1.    Menyiapkan mikroskop beserta perlengkapannya, kemudian arahkan ke cahaaya sampai menemukan titik fokus yang paling baik.
2.    Membius lalat dengan cara ditutup dengan kapas yang bereter pada permukaan botol tempat sediaan lalat tersebut.
3.    Mengambil lalat tersebut dengan pinset, letakkan lalat yang telah dibius  pada obyek glass atau petridish.
4.    Mencatat hasil pengamatan pada tabel.
V.           Hasil Percobaan:
NO
Perbedaan
Perbandingan
Jantan
Betina
1
Ukuran
Lebih kecil
Lebih besar
2
Ujung abdomen
a.    Bentuk

Bulat

Lonjong
b.    Warna
Coklat tua
Coklat kekuning-kuningan
3
Jumlah segmen abdomen
3
6
4
Warna tubuh
Coklat muda
Coklat
5
Warna mata
Merah
Merah
6
Sex comb bagian tarsal kaki
Ada
Tidak ada
7
Perbandingan antara sayap dengan abdomen
Sayap lebih panjang dari abdomen
Sayap sejajar dengan   abdomen
VI.        Pembahasan:
1.    Apa fungsi sex comb?
Jawab:
Sex comb atau sisir kelamin yaitu alat pada kaki drosophila jantan yang fungsinya untuk menempel pada betina ketika proses kopulasi.

2.    Gambarkan secara sederhana  morfologi drosophila jantan dan betina!


VII.     Kesimpulan:
Berdasarkan hasil percobaan dengan membandingkan drosophila jantan dan betina terlihat perbedaan morfologi drosophila jantan dan betina. Ukuran jantan lebih kecil dibanding betina, bentuk tubuh jantan bulat sedangkan betina lonjong, pada jantan sayap lebih panjang dari abdomen sedangkan betina sayap sejajar dengan abdomen, dan jantan memiliki sex comb.
VIII.  Daftar Pustaka:
Ilmiyati, Nur. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Genetika. Universitas Galuh Ciamis



KEGIATAN 2

I.              Judul Percobaan: Membuat Media Kultur Drosophila
II.           Tujuan Percobaan: Membuat media kultur Drosophila melanogaster untuk pembiakan.
III.        Dasar Teori:
Media kultur ini dibuat dan disiapkan untuk membiakkan drosophila.
IV.        Alat, Bahan dan Cara Kerja:
v  Alat dan Bahan:
1.    Pisang dan tape                            5.  Kain Kasa
2.    Mortar dan penumbuknya            6.  Pengaduk dan sendok
3.    Kapas                                           7.  Alkohol 70%
4.    Kertas saring                                8.  Botol jam atau selai
v  Cara Kerja:
1.    Mengambil tape dan pisang dengan perbandingan 1 : 6. Meletakkan di dalam mortar kemudian menumbuk sampai halus.
2.    Botol jam atu selai dibersihkan (di-sterilisasi) dengan alkohol agar spora, jamur dan bakteri tidak ikut tumbuh dalam media kultur tersebut.
3.    Mengambil 1 sendok media kultur ke dalam botol jam (kira-kira seperlima tinggi botol), kemudian masukkan gulungan kertas saring secara tegak lurus.
4.    Kultur ini disiapkan untuk membiakkan drosophila.
V.           Hasil Percobaan:


VI.        Pembahasan:
1.      Apa fungsi tape?
Jawab:
Tape berfungsi untuk makanan drosophila.
2.      Apa fungsi dari gulungan kertas saring dari media kultur tersebut?
Jawab:
Gulungan kertas saring digunakan untuk menyimpan droshopila yang baru dimasukkan setelah di bius terlebih dahulu.
VII.     Kesimpulan:
Media kultur ini dibuat dan disiapkan untuk membiakkan drosophila.
VIII.  Daftar Pustaka:
Ilmiyati, Nur. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Genetika. Universitas Galuh Ciamis




KEGIATAN 3

I.              Judul Percobaan: Membiakkan Drosophila Liar
II.           Tujuan Percobaan:
1.    Mempelajari siklus hidup drosophila.
2.    Membuktikan perbandingan jantan dan betina = 1 : 1.
III.        Dasar Teori:
Perkembangan embrional, didahului dengan peristiwa fertilisasi dan membentuk zigot yang terdapat di dalam telur. Embrio di dalam telur kemudian berkembang menjadi larva, larva akan tumbuh dan berkembang menjadi pupa. Dan akhirnya pupa akan berkembang menjadi imago (lalat buah dewasa).
Lamanya proses metamorfosis lalat drosophila tersebut dipengaruhi oleh suhu. Kultur drosophila sebaiknya dipelihara dalam temperatur kamar, yang berkisar antara 200 sampai 250 celcius. Pada temperatur kamar tersebut waktu yang diperlukan untuk siklus hidupnya berkisar antara 10 sampai 15 hari.
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan (Silvia, 2003).
Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).
Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. (Silvia, 2003).
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia, 2003).
Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago (Ashburner, 1985).
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa.
Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985)
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa (Silvia, 2003).
IV.        Alat, Bahan dan Cara Kerja:
v  Alat dan Bahan:
·      Botol biakan, botol pembantu
·      Petridish, kuas kecil
·      Loupe
·      Eter dan kapas
·      Sediaan drosophila (yang dibawa masing-masing kelompok)
v  Cara Kerja:
1.    Botol biakkan diisi dengan media, kira-kira seperlima tinggi botol.
2.    Memindahkan drosophila dari botol sediaan ke botol pembantu dengan cara menghubungkan kedua permukaanya. Botol sediaan berdiri tegak dan botol pembantu terbalik posisinya.
3.    Kalau dalam botol pembantu sudah terdapat sejumlah drosophila yang dibutuhkan, maka botol pembantu digeserkan dan botol sediaan segera ditutup kembali.
4.    Biuslah drosophila yang terdapat dalam botol pembantu dengan kapas yang telah ditetesi eter. Kemudian meletakkan drosophila yang telah terbius di atas petridish.
5.    Memeriksa drosophila yang terbius tersebut dengan menggunakan alat pembantu (loupe). Pengamatan ini untuk mengetahui dan memilih yang jantan atau betina.
6.    Memasukkan 4-6 pasang drosophila dengan menggunakan kuas kecil ke dalam botol biakkan, ditutup dengan kain kasa.
7.    Pada botol biakkan ditempeli etiket berikut:

Biakan Drosophila
 Kultur tgl : _________________
 Larva tgl  : _________________
 Pupa tgl   : _________________
 Imago tgl : _________________
Kelompok  ....
 Nama:
1.       ____________________
2.       ____________________
3.       ____________________
4.       ____________________

v  Langkah Pengamatan:
1.      Mengamati drosopilanya mati atau tidak, diamati ¼ jam setelah diadakan pemindahan ke botol sediaan. Drosophila yang mati diganti.
2.      Pengamatan selanjutnya yaitu mengamati setiap hari biakan drosophila tersebut. Mencatat tanggalnya pada saat terjadinya larva pertama.
Setelah melihat larva pertama, lalat dewasa (parental) dilepaskan, agar tidak mengacaukan pengamatan.
3.      Selanjutnya mengamati terjadinya pupa pertama dan mencatat tanggalnya.
4.      Mengamati terjadinya imago pertama dan mencatat tanggalnya.
V.           Hasil Percobaan:
Biakan Drosophila
   Kultur tgl : 13 Desember 2011
   Larva tgl  : 20 Desember 2011
   Pupa tgl   : 22 Desember 2011
   Imago tgl : 24 Desember 2011
Kelompok  2
 Nama:
1.       ADI HADIANA
2.       IGUS JULIUS
3.       MOCH SAEFFULLOH
4.       PUJI HANDIKA

VI.        Pembahasan:
1.      Berapa waktu yang dibutuhkan dalam siklus drosophila?
Jawab:
Dari hasil pembiakan dan pengamatan yang dilakukan, bahwa siklus hidupnya yaitu 11 hari.
2.      Apakah hasil percobaan mendapatkan perbandingan keturunan jantan dan betina = 1 : 1? Jelaskan mengapa demikian? Hitunglah dengan menggunakan tes X2!
Jawab:
Hasil percobaan didapatkan keturunan jantan dan betina = 29 : 26, sehingga perbandingan keturunannya  = 1 : 1. Ini dikarenakan
Ø  Menghitung dengan menggunakan tes χ2 (Chi- Square Test).
Tes χ2 dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:
χ = Ʃ (d2)
e


keterangan:
e          = hasil yang diramal/ diharapkan (expected)
d          = deviasi/ penyimpangan (deviation), yaitu selisih antara hasil yang  diperoleh (observed di singkat dengan o) dan hasil yang diramal (e)
Ʃ         = sigma (jumlah)
Diketahui         o = 29 (jantan)
 e = 26 (betina)
ditanyakan       χ2 ?
penyelesaian    :

Jantan
Betina
Jumlah
o
29
26
55
e
30
25
55
d
- 1
+1

(d - 1/2 )
- 0,5
+0,5

Koreksi Yates
(d - 1/2) 2
e
0,008
0,01

χ2
0,008 + 0,01 = 0,018

K [1] = antara 0, 90 dan 0,99
Kesimpulan: Karena nilai kemungkinan lebih besar dari 0,05 (yaitu angka yang dianggap sebagai batas signifikan), maka data percobaan diatas dapat dianggap masih bagus karena masih memenuhi perebandingan 3 : 1 dan tidak ada faktor lain diluar faktor kemungkinan yang berperanan.
VII.     Kesimpulan:
Hari pertama membuat kultur, lalu dimasukan biakan drosophila, 7 hari kemudian muncul larva, 2 hari kemudian menjadi pupa dan 2 hari kemudian  menjadi imago. Jadi dapat disimpulkan siklus hidupnya yaitu 11 hari.
VIII.  Daftar Pustaka
Ilmiyati, Nur. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Genetika. Universitas Galuh Ciamis





KEGIATAN 4

I.              Judul Percobaan: Perbandingan Mendel
II.           Tujuan Percobaan:
1.    Menemukan angka-angka perbandingan Mendel melalui teori kemungkinan.
2.    Memahami pengertian Dominan, Resesif, Fenotip dan Genotif.
III.        Dasar Teori:
Berbagai istilah seperti kemungkinan, keboleh- jadian, peluang dan sebagainya dipergunakan untuk membicarakan peristiwa/ kejadian yang hasilnya tidak dapat dipastikan. Dapat juga berupa suatu pernyataan yang tidak diketahui akan kebenarannya. Dalam Ilmu Genetika, kemungkinan ikut penggambil peranan penting. Misalnya mengenai pemindahan gen- gen dari induk/ orangtua ke gamet- gamet, pembuahan sel telur oleh spermatozoon, berkumpulnya kembali gen- gen didalam zigot sehingga dapat terjadi berbagai macam kombinasi. Supaya kita lebih memahami teori kemungkinan, kita ketahui dulu dasar- dasar teori kemungkinan, yaitu kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama dengan perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya dan dasar teori kemungkinan yang kedua yaitu kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih, yang masing- masing berdiri sendiri ialah sama  hasil perkalian dari besarnya kemungkinan untuk peristiwa- peristiwa itu.
Untuk mencari kemungkinan dapat ditempuh dengan penggunaan rumus binomium dan Tes χ2 (Chi- Square Test). Pada rumus binomium (a + b)n dimana a dan b merupakan kejadian/ peristiwa yang terpisah, sedangkan n menyatakan banyaknya percobaan. Sering kali kita menemukan hasil dari sebuah percobaan persilangan/perkawinan yang hasilnya tidak sesuai dengan hukum Mendel dan mnyebabkan kita menjadi ragu akan hasil tersebut, apakah penyimpangan yang terjadi karena kebetukan atau karena ada faktor lain. Oleh karena itu, hasil tersebut dapat diuji dengan menggunakan rumus Chi Square “ ” yang dinyatakan dalam rumus:
χ = Ʃ (d2)
e



Keterangan:
e = hasil yang diramal/ diharapkan (expected)
d            = deviasi/ penyimpangan (deviation), yaitu selisih antara hasil yang  diperoleh (observed di singkat dengan o) dan hasil yang diramal (e)
Ʃ            = sigma (jumlah)
Dalam perhitungan juga harus diperhatikan derajat kebebasan (Degree of Freedom), yang nilainya sama dengan jumlah kelas fenotip dikurangi satu. Jadi, jika pada persilangan monohibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan 3:1 (ada dominansi penuh), berarti ada 2 kelas fenotip, sehingga derajat kebebasan = 2-1=1. Jika terdapat sifat intermedier, keturuna menghasilkan keturunan dengan perbandingan 1:2:1, berarti ada 3 kelas fenotip, sehingga derajat kebebasan = 3-1=2. Menurut para ahli statistik, khusus untuk kelas 2 fenotip perlu diterapkan Koreksi Yates pada nilai deviasi, yaitu mengurangi nilai deviasi dengan 0,5. Apabila nilai yang diperoleh dari perhitungan terletak di bawah kolom kemungkinan 0,05 atau kurang (0,01 atau 0,001), berartifaktor kebetulan hanya berpengaruh sebesar 5% atau kurang. Dan berarti pula ada faktor lain yang berperan dan lebih berpengaruh pada kejadian tersebut, sehingga data percobaan tersebut dinyatakan buruk. Nilai dikatakan signifikan atau berarti, maksudnya deviasi (penyimpangan) sangat berarti dan ada faktor lain di luar faktor kemungkinan yang mengambil peranan. Apabila yang diperoleh dari perhitungan terletak di dalam kolom nilai kemungkinan 0,01 atau bahkan 0,001 itu berarti bahwa data percobaan yang diperoleh sangat buruk. Nilai dikatakan sangat berarti dan faktor kemungkinan sangat besar peranannya (Suryo, 2008).
Dalam tes Chi Square akan dibandingkan antara kemungkinan yang kita inginkan dengan hasil observasi yang kita lakukan. Menrut BR Friden.2001 “We want to know whethe rthe observed are consist with the presumed. If they are not, we call experiment ‘interisting’ or ‘significant’ ”. Untuk itulah dengan tes Chi Square kita dapat memastikan kebenaran Hukum Mendel dengan perkawinan yang telah kita lakukan, selama hasil yang kita peroleh masih signifikan (Aziz, 2009).
Gen Dominan merupakan gen yang menutupi ekspresi alelnya dan biasanya ditulis dengan simbol huruf kapital. Sedangkan gen resesif adalah gen yang ekspresinya ditutupi oleh ekspresi alelnya dan diberi simbol huruf kecil. Fenotip adalah sifat keturunan yang dapat kita amati/ lihat (warna, bentuk, ukuran) sedangkan Genotip adalah sifat dasar yang tidak tampak dan tetap (artinya tidak berubah- ubah karena lingkungan) pada suatu individu. Atau genotip bisa diartikan sebagai suatu susunan genetik yang mendasari pemunculan suatu sifat pada individu.
Genotip dan lingkungan dapat menetapkan fenotip atau dengan kata lain fenotip merupakan resultante dri genotip dan lingkungan. Dengan demikian, maka dua genotip yang sama dapat menunjukkan fenotip yang berlainan, apabila lingkungan bagi kedua fenotip itu berlainan. Contohnya anak kembar satu- telur tentunya memiliki genotip yang sama, tetapi jika kedua anak itu dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, maka akhirnya mereka masing- masing akan memiliki fenotip yang berlainan (Stern, 1930).
IV.        Alat, Bahan dan Cara Kerja:
v  Alat dan Bahan:
1.      Kotak genetika
2.      Model gen dua warna (satu warna 50 biji), maka dua warna 100 biji
3.      Dua buah kotak
v  Cara kerja:
1.      Mengambil model gen hitam dan kuning masing-masing 50 pasang/100 biji.
2.      Menyisihkan sepasang model gen hitam dan sepasang model gen kuning dalam keadaan terpasang.
3.      Membuka pasangan model gen pada no 2. Ini dimisalkan pemisahan gen & pembentukan gamet, baik individu jantan hitam maupun betina kuning.
4.      Menggambungkan model gen jantan hitam dengan model gen betina kuning dan sebaliknya. Yang terbentuk adalah F1 keturunan individu hitam dengan individu kuning.
5.      Memisahkan kembali model gen hitam dan model gen kuning. Hal ini menggambarkan pemisahan gen pada pembentukan gamet oleh F1. Memisahkan model gen betina dan model gen jantan. Memasukkan dalam kotak terpisah (kotak jantan dan kotak betina).
6.      Selanjutnya semua model gen jantan baik hitam maupun kuning, dimasukkan ke dalam kotak jantan dan model gen betina baik hitam maupun kuning, dimasukkan ke dalam kotak betina.
7.      Dengan tanpa melihat bendanya, diambil secara acak (dikocok terlebih dahulu sebelumnya) satu gen dari masing-masing kotak, kemudian dipasangkan.
8.      Dilakukan terus menerus pengambilan model gen kedua kotak sampai habis.
9.      Mencatat setiap pasangan model gen yg terambil ke dalam tabel pengamatan.
V.           Hasil Percobaan:
NO
Pasangan
Tabulasi Ijiran
Jumlah

1.               

2.               

3.               


Hitam – Hitam

Hitam – Kuning

Kuning – Kuning


IIIII IIIII IIIII IIIII IIII

IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII II
IIIII IIIII IIIII IIIII IIII
24

52

24
Jumlah seluruhnya
100

VI.        Pembahasan:
1.    Dari hasil pencatatan data di atas, buatlah perbandingan frekuensi antara pasangan = (hitam–hitam):(hitam–kuning):(kuning–kuning) = ..... : ..... : .....
Jawab:
(hitam–hitam) : (hitam–kuning) : (kuning–kuning) = 1 : 2 : 1
2.    Kalau pasangan model gen hitam kuning diletakkan sedemikian, dimana model gen  hitam di atas dan yang kuning di bawah, warna apa yang tertutup dan warna yang terlihat?
Jawab:
Warna yang terlihat yaitu warna hitam dan warna yang tertutup yaitu warna kuning.
3.    Bagaimanakah perbandingan jumlah pasangan-pasangan, apabila pasangan hitam – kuning diletakkan seperti no 2. itu?
Jawab:
Hitam : Kuning = 52 : 0
4.    Berapa macam susunan pasangan model gen yang diperoleh? Mengapa demikian!
Jawab:
Terdapat 3 macam pasangan model gen (hitam–hitam, hitam–kuning dan kuning–kuning). Karena model gen hanya terdapat 2 warna yang berbeda jadi kemungkinannya hanya terjadi 3 macam susunan pasangan model gen.
5.    Bila hanya ditinjau dari yang nampak saja, berapa macam pula pasangan model gen itu?
Jawab:
Terdapat 2 macam pasangan model gen yaitu pasangan hitam-hitam dan kuning-kuning.
6.    Hitunglah hasil percobaan dengan mengguunakan X2!
Apakah sesuai dengan Hukum Mendel? Simpulkan!
Jawab:
Menghitung hasil percobaan dengan menggunakan tes χ2 (Chi- Square Test).
Tes χ2 dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:
χ = Ʃ (d2)
e


keterangan:
e          = hasil yang diramal/ diharapkan (expected)
d          = deviasi/ penyimpangan (deviation), yaitu selisih antara hasil yang  diperoleh (observed di singkat dengan o) dan hasil yang diramal (e)
Ʃ         = sigma (jumlah)
Diketahui         o = 76 (merah), 24 (kuning)
 e = 75 (merah), 25 (kuning)
ditanyakan       χ2 ?
penyelesaian    :

Merah
Kuning
Jumlah
o
76
24
100
e
75
25
100
d
+ 1
-1

(d - 1/2 )
+ 0,5
-0,5

Koreksi Yates
(d - 1/2) 2
e
0,003
0,01

χ2
0,003 + 0,01 = 0,013

K [1] = antara 0, 90 dan 0,99
Kesimpulan
Karena nilai kemungkinan lebih besar dari 0,05 (yaitu angka yang dianggap sebagai batas signifikan), maka data percobaan diatas dapat dianggap masih bagus karena masih memenuhi perebandingan 3 : 1 dan tidak ada faktor lain diluar faktor kemungkinan yang berperanan.


VII.     Kesimpulan:
VIII.  Daftar Pustaka:
Ilmiyati, Nur. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Genetika. Universitas Galuh Ciamis





KEGIATAN 5

I.              Judul Percobaan: Variasi Manusia
II.           Tujuan Percobaan: Melihat variasi dalam populasi manusia dengan memperhatikan adanya persamaan dan perbedaan fenotip setiap individu.
III.        Dasar Teori:
IV.        Alat, Bahan dan Cara Kerja:
v  Alat dan bahan:
1.    Bahan yang diamati adalah diri sendiri setiap anggota kelompok
2.    Cakram genetika
v  Cara Kerja:
Cara mencari identitas seseorang pada cakram genetika, mulai dari lingkaran terdalam, seterusnya menuju ke luar sesuai dengan daerahnya.
V.           Hasil Percobaan:
No
Pertanyaan
Keterangan
Adi
Igus
Saeful
Puji
1
Apakah jenis kelaminmu?
XY
XY
XY
XY
2
Leper atau lengkungkah telapak kakimu?
K-
K-
K-
K-
3
Dapatkah lidahmu menggulung memnjang/tidak?
L-
L-
L-
ll
4
Apakah jari telunjuk kakimu lebih panjang dari ibu jari kakimu atau tidak?
tt
T-
T-
T-
5
Apakah gigi seri atasmu bercelah atau tidak?
G-
G-
gg
gg
6
Apa golongan darahmu?
A
O
O
B
Nomor Cakram Genetika
5
16
12
26
Keterangan:
XX         : Perempuan
XY         : Laki-laki
K-          : Tapak kaki lengkung
kk           : Tapak kaki leper
L-           : Lidah menggulung memamjang
ll             : idah tidak menggulung memanjang
T-           : Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
tt                        : Jari tekunjuk kaki lebih pendek dari ibu jari kaki
G-          : Gigi seri atas tidak bercelah
gg           : Gigi seri atas bercelah

VI.        Pembahasan:
1.    Tentukan dirimu masing-masing, bernomor berapa pada lingkaran cakram genetika!
Jawab:
a.       Adi Hadiana                         : 5
b.      Igus Julius                             : 16
c.       Mochamad Saeffulloh          : 12
d.      Puji Handika                         : 16
2.    Buatlah daftar distribusi frekuensi nomor genetika populasi kelasmu!
Jawab:
Daftar Distribusi Frekuensi Nomor Genetika Populasi
Tingkat 3C Biologi Universitas Galuh
No.
Nama
Jenis
Kelamin
No. Cakram
Genetika
1
Ade Nina Yuliana
P
114
2
Adi Hadiana
L
5
3
Ai Santi Damayanti
P
116
4
Cucu Fitriyani
P
97
5
Eni Maryani
P
118
6
Erma Gandawati
P
105
7
Fitri Andriani
P
128
8
Igus Julius
L
16
9
Iis Munawaroh
P
113
10
Mochamad Saeffulloh
L
12
11
Mukhamad Ali Mahbub
L
32
12
Nelly Rose
P
8
13
Panji Taga Alam
L
16
14
Puju Handika
L
26
15
Susi Sulastri
P
97
16
Winda Yuni Deninta
P
89
17
Yanti Susilawati
P
98

3.    Nomor berapakah kebanyakan mahasiswa/i dalam kelasmu?
Apakah artinya itu?
Bandingkanlah sifat-sifat kedua nomor itu?
Apakah persamaan dan perbedaannya?
Jawab:
Kebanyakan nomor genetika kelas 3C yaitu laki-laki nomor 16  dan perempuan  nomor 97. Artinya orang-orang tersebut memiliki kesamaan sifat/identitas yang terdapat dalam cakram genetika.
Nomor 16 memiliki sifat:
1)      Laki-laki
2)      Tapak kaki lengkung
3)      Lidah menggulung memanjang
4)      Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
5)      Gigi seri atas tidak bercelah
6)      Golongan darah O
Nomor 97 memiliki sifat:
1)      Perempuan
2)      Tapak kaki lengkung
3)      Lidah tidak menggulung memanjang
4)      Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
5)      Gigi seri atas tidak bercelah
6)      Golongan darah A
Persamaan nomor 16 dan 97:
1)      Tapak kaki lengkung
2)      Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
3)      Gigi seri atas tidak bercelah
4.    Berdasarkan nomor yang kamu miliki, sebutkan variasi dirimu?
Jawab:
1)      Adi Hadiana :
®      XY         = Laki-laki
®      K-           = Tapak kaki lengkung
®      L-           = Lidah menggulung memanjang
®      tt             = Jari telunjuk kaki lebih pendek dari ibu jari kaki
®      G-           = Gigi seri atas tidak bercelah
®      Golongan darah A
2)      Igus Julius :
®      XY         = Laki-laki
®      K-           = Tapak kaki lengkung
®      L-           = Lidah menggulung memanjang
®      T-            = Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
®      G-           = Gigi seri atas tidak bercelah
®      Golongan darah O
3)      Mochamad Saeffulloh :
®      XY         = Laki-laki
®      K-           = Tapak kaki lengkung
®      L-           = Lidah menggulung memanjang
®      T-            = Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
®      gg           = Gigi seri atas bercelah
®      Golongan darah O
4)      Puji Handika :
®      XY         = Laki-laki
®      K-           = Tapak kaki lengkung
®      ll             = Lidah tidak menggulung memanjang
®      T-            = Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
®      gg           = Gigi seri atas bercelah
®      Golongan darah B

5.    Kalau ada dua atau lebih mahasiswa/i yang memiliki nomor sama, apakah artinya?
Jawab:
Memiliki sifat atau identitas yang sama, yang tercantum dalam cakram genetika tersebut.
6.    Jika orang bernomor indeks 120, candralah sifat dari orang tersebut!
Jawab:
®    Jenis kelamin perempuan
®    Lidah menggulung memanjang
®    Jari telunjuk kaki lebih panjang dari ibu jari kaki
®    Gigi seri atas bercelah
®    Memiliki golongan darah O
7.    Untuk setiap kelompok, buatlah cakram genetika dengan mencantumkan 8 macam ciri-ciri (catatan:ciri-ciri pada cakram genetika boleh diambil dua yaitu lingkaran yang terdalam tentang jenis kelamin dan lingkaran terluar tentang golongan darah)
Jawab:

VII.     Kesimpulan:
Kebanyakan setiap individu di kelas 3C dipastikan memiliki sifat atau identitas yang berbeda sesuai dengan nomor cakram genetika masing-masing. Meskipun ada beberapa yang sama, tetapi pada umumnya berbeda.
VIII.  Daftar Pustaka:
Ilmiyati, Nur. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Genetika. Universitas Galuh Ciamis





KEGIATAN 6

I.              Judul Percobaan: Membiakkan Stok (F1 dan F2) Drosophila
II.           Tujuan percobaan:
1.    Melihat/mengamati siklus hidup drosophila.
2.    Menyiapakan drosophila betina virgin untuk bahan percobaan berikutnya.
III.        Dasar Teori:
Perkembangan embrional, didahului dengan peristiwa fertilisasi dan membentuk zigot yang terdapat di dalam telur. Embrio di dalam telur kemudian berkembang menjadi larva, larva akan tumbuh dan berkembang menjadi pupa. Dan akhirnya pupa akan berkembang menjadi imago (lalat buah dewasa).
Lamanya proses metamorfosis lalat drosophila tersebut dipengaruhi oleh suhu. Kultur drosophila sebaiknya dipelihara dalam temperatur kamar, yang berkisar antara 200 sampai 250 celcius. Pada temperatur kamar tersebut waktu yang diperlukan untuk siklus hidupnya berkisar antara 10 sampai 15 hari.
IV.        Alat, Bahan dan Cara Kerja:
v  Alat dan Bahan:
1.    Stok (F1) drosophila
2.    Beberapa botol biakan dan botol pembantu
3.    Petridish, kuas kecil
4.    Loupe
5.    Eter dan kapas
6.    Kertas hisap dan kain kasa
v  Cara Kerja:
1.    Botol biakkan diisi dengan media, kira-kira 1/5 tinggi botol. Letakkan diatas media tersebut gulungan kertas hisap.
2.    Memindahkan drosophila dari botol stok ke botol pembantu dengan cara menghubungkan permukaanya. Botol stok berdiri tegak botol pembantu terbalik posisinya. Kalau dalam botol pembantu sudah terdapat sejumlah drosophila yang dibutuhkan, maka botol pembantu digeserkan dan botol stok segera ditutup kembali.
3.    Membius drosophila dengankapas ber-eter, kemudian menaruhnya di atas petridish.
4.    Periksa dengan loupe rosophila yang sudah terbius tersebut untuk mengetahui yang jantan dan betina.
5.    Masukkan 3-5 pasang drosophila dengan menggunakan kuas kecil ke dalam botol biakkan dan tutup dengan menggunakan kain kasa.
v  Langkah Pengamatan:
1.    Amati apakah drosophila mati atau tidak. Kalau mati segera diganti.
2.    Mengetahui dan memcatat larva I, pupa I dan imago I.
3.    Setelah terdapat larva I, pindahkan drosophila dewasa.
4.    Sebagai persiapan percobaan selanjutnya mengamati imago betina yang masih belum dibuahi. Caranya pisahkan beberapa imago betina ke botol biakan yang telah tersedia, sehingga di dapatkan imago betina virgin.
5.    Setelah munculnya imago, siapkan untuk pembiakan F2.  
V.           Hasil Percobaan:
Biakan Drosophila
Kultur tgl : 24 Desember 2011
Larva tgl  : 31 Desember 2011
Pupa tgl   : 2 Januari 2012
Imago tgl : 4 Januari 2012
Kelompok  2
 Nama:
1.       ADI HADIANA
2.       IGUS JULIUS
3.       MOCH SAEFFULLOH
4.       PUJI HANDIKA

VI.        Pembahasan:
1.      Apakah hasil percobaaan ini masih tetap mendapatkan perbandingan keturunan jantan dan betina = 1 : 1 ?
Jelaskan dengan menggunakan tes X21
VII.     Kesimpulan:
Menyiapkan  kultur dan memasukan drosophila biakan, 7 hari kemudian muncul larva, 2 hari kemudian menjadi pupa dan 2 hari kemudian  menjadi imago. Jadi dapat disimpulkan siklus hidupnya yaitu 11 hari.

VIII.  Daftar Pustaka:
Ilmiyati, Nur. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Genetika. Universitas Galuh Ciamis

0 komentar:

Poskan Komentar